Kemunafikan

K

emunafikan adalah penyakit kronis yang membahayakan. Ia tumbuh diatas dua akar: akar kedustaan dan riya’, sumber airnya dari dua mata air: Mata air lemahnya mata hati dan lemahnya tekad. Maka apabila ru-kun–rukun yang empat ini telah sempurna niscaya pohon akan kokohlah pohon kemuna-fikan dan bangunannya sehingga terkadang seseorang dipenuhi olehnya tanpa sadar. Ke-munafikan adalah perkara yang sangat ter-sembunyi dari kebanyakan manusia, sebab dia menyangka sebagai reformis padahal jus-tru penyebab kerusakan.

Allah telah menyibak tabir–tabir mereka di dalam Al Quran dan memaparkan keadaan mereka kepada para hambaNya agar waspada dari kemunafikan dan para pelakunya. Demi Allah wahai saudaraku, kalau kita perhatikan berapa banyak kerusakan yang terjadi karena keberadaan mereka, betapa banyak benteng–benteng Islam yang begitu kokoh yang mere-ka hancurkan. Berapa banyak panji-panji Is-lam dimana–mana meraka turunkan. Berapa banyak penyakit-penyakit syubuhat yang me-reka tebarkan diladang pertanian yang subur untuk mematikan kesuburannya.

Islam dan pemeluknya senantiasa didalam fitnah dan cobaan atas kehadirian mereka. Mereka senantiasa menebar racun syubuhat dengan perlahan tapi pasti dan mereka me-nyangka telah melakukan perbaikan. Kalau orang–orang beriman berkata:

Dan apabila dikatakan kepada mereka janganlah kalian membuat kerusakan dimuka bumi ….” maka mereka menjawab “Kami orang–orang yang melakukan perbaikan(QS. Al Baqarah : 11)

Tanda–tanda keimanan telah sirna dari hati mereka sedangkan mereka tidak meng-etahui. Ikatan–ikatan iman mulai lapuk tapi mereka tidak berusaha untuk memperbarui. Telah terjadi gerhana yang gelap dihati mere-ka antara pemikiran dan ide-ide sesat mereka, tetapi mereka tidak menyadarinya. Namun Allah menceritakan jati diri mereka dengan berfirman “Ingatlah sesungguhnya mereka itulah yang membuat kerusakan, tetapi mere-ka tidak sadar(QS. Al Baqarah : 12)

Wahai saudaraku, Mereka orang–orang munafiq itu mengenakan pakaian iman na-mun hati mereka adalah hati para pelaku pe-nyimpangan. Dhohir mereka adalah dhohir para penolong agama, sedangkan hatinya condong kepada orang kafir. Lisannya adalah lisan orang yang menerima sedang hati mere-ka adalah hati orang yang memerangi.

Mereka orang munafiq berkata: “kami beriman kepada Allah dan hari Akhir, pada-hal meraka itu tidak beriman(QS. Al Baqa-rah: 8). Masing–masing mereka memiliki dua wajah, satu wajah untuk bertemu dengan orang–orang beriman dan wajah yang lainnya untuk bertemu dengan orang–orang yang menyimpang.

Mereka keluar untuk berniaga, berbisnis dengan bisnis yang besar dengan modal tipu daya dimedan yang gelap gulita. Mereka me-ngendarai bahtera syubhat dan keraguan yang berlayar dilautan kegelapan ditengah-tengah ombak khayalan. Maka dengan izin Allah bahtera mereka diombang-ambingkan oleh badai, lalu badai itu menghancurkan bahtera mereka dan seluruh perniagaan mereka, kemudian mereka mengalami kerugian yang besar. Sebab mereka telah menjual hidayah dan membeli kesesatan.

“Mereka itulah orang–orang yang mem-beli kesesatan dengan hidayah (petunjuk), maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapatkan petunjuk ” (QS. Al Baqarah : 16)

Hati mereka telah rusak dengan syubuhat dan syahwat. Hidayah telah mereka jual dengan kesesatan, sehingga mereka sudah ti-dak dapat lagi mendengar seruan penyeru ke-pada jalan iman. Mata hati mereka telah dipe-nuhi dengan kabut kebutaan, sehingga mere-ka sudah tidak dapat lagi memahami hakekat Al-Qur’an. Lisan–lisan mereka terasa berat untuk melafalkan ayat–ayat Al-Qur’an. Mere-ka itu tuli bisu dan buta terhadap kebenaran ayat Al-Qur’an.” Mereka tuli, bisu dan buta maka tidaklah mereka kembali kepada jalan yang benar(QS. Al Baqarah : 18).

Wahai saudaraku, inilah sikap mereka jika dibawakan wahyu. Tidaklah mereka men-dengar ayat-ayat Allah melainkan seperti mendengar petir. Ancaman dan perintah yang harus dikerjakan terasa berat dihati mereka. Oleh karena itu, apabila mendengar firman Allah mereka menyumbat telinga mereka dengan jari mereka, dan menyelimuti wajah mereka dengan baju mereka, apabila perlu mereka lari sekencang–kencangnya untuk menghindar dari seruan wahyu Ilahi.

Atau seperti orang–orang yang ditimpa hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat, mereka menyumbat telinga-nya dengan jarinya, karena mendengar sua-ra petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang–orang kafir (QS. Al Baqa-rah: 19).

Mata hati mereka lemah tidak mampu me-nampung air hujan berupa kilatan cahaya dan kekuatan maknanya. Telinga–telinga mereka tidak sanggup menerima hentakan janji, anca-man, perintah dan larangan-Nya, maka spon-tan mereka bangkit keheranan didalam lem-bah–lembah kesesatan. Pendengarannya tidak dapat mengambil manfaat demikian pula penglihatannya tidak dapat mengambil petun-juk.

Wahai saudaraku yang ingin mengenal mereka (orang munafiq), ambillah sifat – sifat orang munafiq dari ayat Rabb semesta alam yang mana engkau tidak membutuhkan dalil lagi setelahnya:

Yaitu orang–orang yang menunggu- nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada diri kalian (hai orang-orang beriman) maka jika kalian memperoleh kemenangan dari Allah mereka berkata: “bukankah kami (turut berperang) berserta kamu?” Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (keme-nangan) mereka berkata: “bukankah kami tu-rut memenangkanmu, dan membela kalian dari orang-orang mukmin?” Maka Allah akan memberi keputusan diantara kamu di hari kiamat dan Allah tidak sekali-kali mem-beri jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang beriman (QS. An Nisa’: 141). Mereka demikian tidak me-miliki prinsip dan mereka memihak kepada yang menguntungkan mereka saja, tanpa mempedulikan harus mengorbankan iman.

Dalam berbicara wahai saudaraku, engkau akan terpukau dengan gaya bahasanya dan kelembutannya. Mereka demikian pandai mengatur kata merangkai kalimat menjadi se-buah argumentasi yang seolah-olah benar. Padahal mereka sedang tidur dari kebenaran dan giat dalam kebathilan, maka perhatikan-lah sifat mereka dalam firman Allah berikut:

“Dan diantara manusia ada yang uca-pannya tentang kehidupan dunia menarik ha-timu, dan dipersaksikannya kepada Allah apa yang ada didalam hatinya, padahal ia adalah penentang yang paling keras” (QS. Al Baqa-rah : 204).

Mereka adalah makhluk yang paling in-dah fisiknya, paling tangkas lisannya dan pa-ling lembut tutur katanya. Namun mereka memiliki hati yang paling lemah. Mereka ba-gaikan kayu yang bersandar yang tidak ber-buah. Ini kiasan bagi orang yang baik kondisi fisiknya namun kosong batinnya dari nilai iman sebagai mana firman Allah berikut ini :

Dan apabila kamu melihat mereka, tu-buh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengar-kan perkataan mereka, mereka adalah se-akan-akan kayu yang tersandar, mereka mengira bahwa setiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah mu-suh (yang sebenarnya) maka waspadalah kepada mereka, semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipa-lingkan (dari kebenaran)?” (QS. Al Munafi-qun : 4).

Orang munafiq itu dalam hal ibadah se-nantiasa mengakhirkan sholat dari awal wak-tunya sampai keluar batas akhir waktu sholat. Sholat mereka mematuk-matuk seperti bu-rung gagak. Mereka tidak menyaksikan sho-lat berjamaah, bahkan jika salah seorang ada diantara mereka mengerjakan sholat ia kerja-kan dirumah dengan malas. Apabila dipasar ketika berdagang ia kurangi timbangan bila berjanji dia ingkar, bila berkata dia dusta, bila diberikan amanat dia khianat. Demikianlah mua’amalah mereka bersama dengan makh-luk dan dengan Kholiq (pencipta).

Wahai saudaraku, perlu engkau ketahui pula bahwa mereka orang munafiq itu apabila melihat ahli iman memperoleh karunia beru-pa kesehatan kemenangan dalam peperangan maka hal itu membuat susah mereka. Namun apabila Ahli iman mendapat bencana ujian yang mana ujian itu akan meleburkan dosa-dosa mereka, maka mereka orang munafiq demikian bahagia dan bersyukur. Ambillah sifat mereka ini dalam ayat berikut :

Jika kamu memperoleh kebaikan maka hal itu membuat mereka tidak senangdan jika kamu ditimpa oleh suatu bencana, mereka berkata: sesungguhnya kami sebelumnya te-lah memperhatikan urusan kami (tidak ikut berperang), dan mereka berpaling dengan rasa gembira. (QS. At-Taubah: 50).

Maka kita katakan kepada mereka seba-gaimana firman Allah pada ayat berikutnya “Katakanlah: sekali-kali tidaklah menimpa kami melainkan apa yang sudah Allah tetap-kan bagi kami. Dialah pelindung kami dan hanya kepada Allahlah orang-orang beriman harus bertawakkal” (QS. At-Taubah: 51)

Sebenarnya Allah membenci ketaatan me-reka, disebabkan oleh busuknya hati mereka dan rusaknya niat-niat mereka sehingga Allah menjadikan mereka berat untuk melakukan ketaatan, dan Allah mengusir mereka dari ba-risan kaum muslimin karena keberadaan me-reka dimedan dakwah dan jihad tidak mem-bawa kebaikan melainkan akan menyengsara-kan dan melemahkan barisan kaum muslimin. Allah menjelaskan hal ini kepada orang-orang yang beriman dalam firman-Nya :

Dan jika mereka mau berangkat (berpe-rang) tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka dan dikatakan kepada mereka “Dan tinggallah kamu bersa-ma orang-orang yang tinggal itu “(QS. At- Taubah: 46)

Kemudian Allah menyebutkan hikmahnya di dalam melemahkan keinginan mereka yaitu bahwa mereka tidak menambah selain kerusakan belaka dan berusaha menyebarkan fitnah serta memecah-belah persatuan kaum muslimin dengan menumbuhkan permusuhan diantara mereka. Padahal di kalangan kaum muslimin ada yang mereka lemah akalnya dan mudah tertipu. Kalau keadaaan mereka orang munafiq itu seperti ini, maka seperti apakah kalau mereka ikut bersama kaum muslimin dalam barisan dakwah. Maka tepatlah Al-Qur’an menjelaskan sebagai beri-kut :

“Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mere-ka akan bergegas maju ke muka di celah-ce-lah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan diantara kamu, sedang diantara kamu ada orang-orang yang senang mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim” (QS. At-Taubah: 47)

Wahai saudaraku, itulah uraian tentang sifat orang–orang munafiq, sifat mereka tidak dapat disebutkan semuanya. Demi Allah wahai saudaraku, sisa lain yang belum ter-sampaikan di tulisan ini jauh lebih banyak. Hampir-hampir semua isi Al-Qur’an berbi-cara tentang mereka dan karakter serta sifat mereka. Karena jumlah mereka yang begitu banyak sampai didalam kuburpun tidak ter-sisa satu jengkal tanahpun melainkan mereka ada agar orang beriman tidak merasa kesepi-an. Suatu ketika Hudzaifah mendengar sese-orang berdoa: Ya Allah binasakanlah orang-orang munafiq. Maka beliau berkata: “wahai anak saudaraku, seandainya orang-orang mu-nafik binasa niscaya kalian akan kesepian di jalanan kalian karena sedikitnya (orang-orang yang beriman.

Wahai saudaraku, satu hal yang paling

mendasar dari tujuan penulisan tema ini ada-lah supaya saya dan engkau senantiasa was-pada dari sifat kemunafikan mereka, sebab kalau kita cermati semua dari ulama’ terdahu-lu dari kalangan para sahabat demikian takut akan terjangkit kemunafikan ini. Berikut riwayatnya: “Umar Ibnul Khottob bertanya kepada Hudzaifah: wahai Hudzaifah, aku bersumpah kepada Allah terhadap dirimu, apakah Rasulullah menyebutkan kepadamu bahwa aku termasuk orang yang munafiq Beliau berkata: Tidak, dan aku tidak membe-rikan tazkiyah kepada siapapun setelahmu

Dan ada riwayat dari Ibnu Abi Mulaikah berkata: aku telah berjumpa dengan sekitar 30 orang sahabat Nabi semuanya khawatir terhadap dirinya masing-masing akan sifat kemunafikan“.

Demi Allah wahai saudaraku, hati para sahabat telah dipenuhi dengan keimanan dan keyakinan. Rasa takut mereka kepada kemu-nafikan begitu besar. Sedangkan kita wahai saudaraku, kebanyakan imannya tidak mam-pu melewati kerongkongan mereka. Namun terkadang kita mendakwahkan diri bahwasa-nya iman kita sama dengan imannya Jibril dan Mikail.

Satu Tanggapan

  1. Fastabiqul Khairat ya akhifillah aw Ukhtifillah. Salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: